Selasa, 08 November 2011

JERAWAT

Acne Vulgaris atau yang dikenal dengan sebutan jerawat merupakan salah satu penyakit kulit yang selalu ngetren bagi para remaja dan dewasa muda. Jerawat yang memiliki ukuran yang kecil dan mungil tetapi tidak menarik ini cukup merisaukan bagi remaja dan dewasa muda karena dapat menurunkan kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan wajah. Namun demikian, penyakit kulit ini sama sekali tidak fatal dan tidak berbahaya.
DEFINISI
Dalam dunia medis, Acne Vulgaris merupakan peradangan kronis dari folikel pilocebaceous (salah satu kelenjar pada kulit), disertai penyumbatan dan penimbunan keratin, ditandai dengan adanya komedo, pustula, nodula, dan kista. Daerah yang terkena bukan hanya wajah, namun juga bahu, dada, punggung, dan lengan bagian atas. Acne vulgaris biasanya terjadi pada remaja yang biasanya berinvolusi sebelum usia 25 tahun namun bisa berlanjut sampai usia dewasa. Acne vulgaris terutama timbul pada kulit yang berminyak berlebihan aikbat produksi sebum berlebihan ditempat glandula sebaseanya banyak. Kondisi yang seperti ini apabila tetap dibiarkan akan menimbulkan tekanan emosional yang lebih besar khususnya bagi penderita jerawat
ETIOLOGI
Jerawat disebabkan oleh banyak faktor (multifaktorial), antara lain : genetik, endokrin (androgen, pituitary sebotropic factor, dsb), faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasea, faktor psikis, musim, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), kosmetika, dan bahan kimia lainnya.
GEJALA
Keluhan yang sering timbul biasanya bukan karena gangguan fisik kesehatan secara umum melainkan lebih karena gangguan estetika atau keindahan yang dirasakan oleh penderita. Memang kadang-kadang jerawat menyebabkan rasa gatal yang mengganggu atau bahkan rasa sakit, tetapi umumnya tidak ada efek menyeluruh pada tubuh. Penderita biasanya mengeluh adanya erupsi kulit pada tempat-tempat predileksi, yakni di muka, bahu, leher, dada, punggung bagian atas, dan lengan bagian atas. Erupsi kulit berupa komedo, papul, pustula, nodus, atau kista. Isi komedo ialah sebum yang kental atau padat. Isi kista biasanya pus dan darah. Komedo lazim dikenal sebagai kepala hitam (komedo terbuka) dan kepala putih (komedo tertutup). Komedo dapat menjadi lesi dasar pada akne.
PATOGENESIS
            Patogenesis acne vulgaris sangat kompleks dipengaruhi banyak faktor dan kadang-kadang masih kontroversial. Asam lemak bebas yang terbentuk dari trigliserida dalam sebum menyebabkan kekentalan sebum bertambah dan menimbulkan sumbatan saluran pilosebasea serta reaksi radang disekitarnya (komedogenik). Pembentukan pus, nodus, dan kista terjadi sesudahnya.
Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne :
1.   Kenaikan sekresi sebum
       Acnebiasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Terdapat korelasi antara hebatnya acnedan produksi sebum. Pertumbuhan kelenjar palit dan produksi sebum dibawah pengaruh hormon androgen. Pada penderita acneterdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal berada dalam darah (testosteron) kebentuk metabolit yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron). Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum.
       Meningkatnya produksi sebum pada penderita acnedisebabkan oleh respon organ akhir yang berlebihan (end-organ hyperresponse) pada kelenjar palit terhadap kadar normal androgen dalam darah. Terbukti bahwa, pada kebanyakan penderita, lesi acnehanya ditemukan dibeberapa tempat yang kaya akan kelenjar palit.
       Akne mungkin juga berhubungan dengan komposisi lemak. Sebum bersifat komedogenik tersusun dari campuaran skualen, lilin (wax), ester dari sterol, kholesterol, lipid polar, dan trigliserida. Pada penderita acneterdapat kecenderungan mempunyai kadar skualen dan ester lilin (wax) yang tinggi, sedangkan kadar asam lemak terutama asam leinoleik, rendah. Mungkin hal ini ada hubungan dengan terjadinya hiperkeratinisasi pada kelenjar sebasea.
2.   Adanya keratinisasi folikel
       Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya penumpukan korniosit dalam saluran pilosebasea. Hal ini dapat disebabkan :
§  bertambahnya erupsi korniosis pada saluran pilosebasea
§  Pelepasan korniosit yang tidak adekuat
§  Kombinasi kedua faktor diatas.
Bertambahnya produksi korniosit dari sel keratinosit merupakan salah satu sifat komedo.
Terdapat hubungan terbalik antara sekresi sebum dan konsentrasi asam linoleik dalam sebum. Menurut Downing, akibat dari meningkatnya sebum pada penderita akne, terjadi penurunan konsentrasi asam lenolik. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi asam lenoleik pada epitel folikel, yang akan menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi barier dari epitel. Dinding komedo lebih mudah ditembus bahan-bahan yang menimbulkan peradangan. Walaupun asam lenoleik merupakan unsur penting dalam seramaid-1, lemak lain mungkin juga berpengaruh pada patogenesis akne. Kadar sterol bebas juga menurun pada komedo sehingga terjadi ketidak seimbangan antara kholesterol bebas dengan kholesterol sulfat sehinggga adhesi korneosit pada akroinfundibulum bertambah dan terjadi hiperkeratosis folikel.
3.   Bakteri
       Tiga macam mikroba yang terlibat dalam patogenesis jerawat adalah corynebakterium Acne, Stafylococcus epidermidis, dan pityrosporum ovale (malazzea furfur). Adanya sebore pada pubertas biasanya disertai dengan kenaikan jumlah corynebacterium acne, tetapi tidak ada hubungan dengan jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran pilosebasea dengan derajat hebatnya akne. Tampaknya ketiga macam bakteri ini bukanlah penyebab primer pada proses patologis akne. Beberapa lesi mungkin timbul tanpa ada mikroorganisme yang hidup, sedangkan pada lesi yang lain mikroorganisme mungkin memegang peranan penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya masing-masing lesi. Apakah bakteri yang berdiam dalam folikel (residen bacteria) mengadakan eksaserbasi tergantung pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut. Menurut hipotesis Saint-Leger skualen yang dihasilkan oleh kelenjar palit dioksidasi dalam kelenjar folikel dan hasil oksidasi ini dapat menyeebabkan terjadinya komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan akhirnya menjadi kolonisasi C. Acnes. bakteri ini memproduksi porfirin, yang bila dilepaskan dalam folikel akan menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi skualen, sehingga oksigen dalam folikel tambah berkurang lagi. Penurunan tekanan oksigen dan tingginya jumlah bakteri ini dapat menyebabkan peradangan folikel. Hipotesis ini dapat menerangkan mengapa akne hanya dapat terjadi pada beberapa folikel, sedangkan folikel yang lain tetap normal
4.   Peradangan (inflamasi).
       Faktor yang menyebabkan peradangan pada akne belumlah diketahui dengan pasti. Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh C. Acnes seperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase dan nioranidase, memegang peranan penting dalam proses peradangan.
       Faktor kemotaktik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untuk bekerja aktif), bila keluar dari folikel, dapat menarik leukosit nucleus polimorfi (PMN) dan limfosit. Bila masuk kedalam folikel, PMN dapat mencerna C. Acnes dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel sebasea. Limfosit dapat merupakan pencetus terbentuknya sitokin.
       Bahan keratin yang sukar larut, yang terdapat di dalam sel tanduk serta lemak dari kelenjar palit dapat menyebabkan reaksi non spesifik, yang disertai makrofag dan sel-sel raksasa.
       Pada masa permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh C. Acnes, juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif (classical and alternative complement pathways). Respon penjamu terhadap mediator juga amat penting. Selain itu antibody terhadap C. Acnes juga meningkat pada penderita akne hebat.
       Terdapat empat mekanisma utama kejadian jerawat.
·      Kelenjar minyak menjadi besar (hipertropi) dengan peningkatan penghasilan sebum (akibat rangsangan hormon androgen)
·      Hiperkeratosis (kulit menjadi tebal) epitelium folikular (pertumbuhan sel-sel yang cepat dan mengisi ruang folikel polisebaceous dan membentuk plug).
·      Pertumbuhan kuman, propionibacterium acnes yang cepat (folikel pilosebaceous yang tersumbat akan memerangkap nutrien dan sebum serta menggalakkan pertumbuhan kuman.
·      Inflamasi (radang) akibat hasil sampingan kuman propionibacterium acnes.
Proses terbentuknya dimulai dengan adanya radang saluran kelenjar minyak kulit, kemudian dapat menyebabkan sumbatan aliran sebum yang dikeluarkan oleh kelenjar sebasea di permukaan kulit, sehingga timbul erupsi ke permukaan kulit yang dimulai dengan komedo. Proses peradangan selanjutnya akan membuat komedo berkembang menjadi papul, pustul, nodus dan kista. Bila peradangan surut terjadi jaringan parut.
            Sumbatan saluran kelenjar minyak dapat terjadi karena:
1.   Perubahan jumlah dan konsistensi kelenjar minyak dalam kulit yang terjadi karena berbagai faktor, antara lain: genetik, rasial, hormonal, cuaca, makanan, stress fisik, dll. Terjadi pada acne vulgaris. Banyak terdapat di muka, leher, punggung, bahu dan lengan atas.
2.   Tertutupnya saluran keluar kelenjar sebasea oleh masa eksternal, baik dari kosmetik, bahan kimia, detergen. Akne jenis ini disebut acne venenata. Hanya terdapat pada daerah yang terpapar, biasanya di muka, lengan atas dan bawah, serta betis.
3.   Saluran keluar kelenjar sebasea menyempit akibat radiasi sinar ultra violet atau sinar radioaktif, dikenal sebagai akne fisik.
EPIDEMIOLOGI
Ø Frekuensi di Amerika Serikat
Acne vulgaris memengaruhi 85-100% orang pada suatu saat dalam hidupnya.
Ø Mortalitas/Morbiditas
·      Akne dapat menyebabkan nyeri fisik dan penderitaan psikososial.
·      Akne dapat menimbulkan bekas luka/parut pada kulit (scarring).
·      Varian inflammatory acne yang berat, acne fulminans, dapat berhubungan dengan demam, arthritis, dan gejala-gejala sistemik lainnya.
Ø Ras
Prevalensi jerawat pada penduduk Amerika Utara keturunan Afrika dan kulit putih adalah sama.
Ø Jenis Kelamin
Acne vulgaris lebih sering terjadi pada pria daripada wanita di masa remaja (adolescence), namun lebih sering pada wanita daripada pria di masa dewasa (adulthood).
Ø Usia
·      Acne vulgaris dapat muncul pada minggu-minggu dan bulan-bulan pertama kehidupan saat bayi baru lahir (newborn) masih dipengaruhi oleh hormon ibunya dan saat androgen-producing portion dari kelenjar adrenal tak sebanding kadarnya. Jerawat di masa bayi ini (neonatal acne) dapat menghilang secara spontan.
·      Jerawat di masa remaja biasanya muncul di masa pubertas, saat kelenjar adrenal mulai memproduksi dan melepaskan lebih banyak hormon androgen.
·      Jerawat tidak terbatas hanya pada usia remaja. Dua belas persen wanita dan lima persen pria pada usia 25 tahun memiliki problem jerawat. Setelah usia 45 tahun, sejumlah 5% baik pria maupun wanita masih memiliki problem jerawat.
·      Menurut Wolff K, dkk (2007), akne umumnya terjadi pada usia pubertas 10 hingga 17 tahun pada wanita, 14 hingga 19 tahun pada pria. Dapat juga muncul pertama kali pada usia > 25 tahun.
PENCEGAHAN JERAWAT
            Pencegahan Jerawat meliputi pencegahan dalam hal perilaku hidup bersih dan sehat serta perilaku makan atau gizi.
1.   Gunakan pakaian dalam yang mengandung serat katun alami, karena serat katun mampu menyerap keringat dengan baik.
2.   Rutin mandi dua kali sehari untuk membuang kotoran-kotoran dan debu yang menempel di kulit. Jangan sering-sering menggosok kulit terlalu kencang apalagi menggunakan alat penggosok karena bisa memancing iritasi. Jangan pula terlalu sering menggunakan sabun atau bedak yang mengandung antiseptik, karena kadang-kadang sabun atau bedak tersebut akan memancing iritasi yang mengakibatkan kulit akan lebih mudah berjerawat. Cara alami juga bisa digunakan dalam pencegahan ini seperti mandi dengan rebusan air sirih setidaknya setiap hari. Sirih mengandung antiseptik alami yang dapat membantu menyembuhkan infeksi pada kulit, termasuk juga jerawat.
3.   Pola makan yang baik. Pola makan yang berantakan, tidak teratur, dan gizi tidak seimbang mudah memancing jerawat (hubungannya dengan keseimbangan hormon), dan sebaiknya hindari jenis-jenis makanan tertentu yang dapat memancing jerawat, seperti coklat, makanan berlemak (tidak selalu harus dalam bentuk daging, misalnya sepotong croissant memiliki lemak yang cukup tinggi karena pembuatannya menggunakan lemak yg disebut corsvet), kuning telur dan olahannya, kurangi konsumsi susu dan olahannya. Perbanyak makan buah-buahan segar yang mengandung vitamin A, C dan E yang selain berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas, juga bisa membantu menyehatkan kulit.
4.   Minum supplemen yang mengandung ketiga vitamin tersebut.
5.   Banyak minum air putih. Dengan banyak minum air putih, darah pun menjadi bersih karena terjadi pergantian cairan, sehingga kotoran-kotoran di dalam darah akan terbuang lebih sering.
6.   Jika perlu, gunakan losion antijerawat pada jerawat-jerawat Anda. Waktu yang paling tepat menggunakan sediaan topikal adalah saat setelah mandi, karena pori-pori masih terbuka yang bisa membantu penyerapan obat lebih maksimal.

Sumber :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar